My Digital Portofolio DAY 2 [Plagiarisme, Korupsi Adalah Kangker, Landasan Ideologis Apa Itu Mahasiswa]
Plagiarisme adalah tindakan mengambil karya, ide, atau informasi orang lain tanpa mencantumkan sumber secara layak, yang pada dasarnya merupakan bentuk pencurian intelektual. Meskipun istilah ini telah dikenal sejak 1900 tahun lalu, praktik plagiarisme masih marak terjadi di kalangan mahasiswa. Penyebabnya beragam, mulai dari ketidaktahuan, rasa takut gagal, merasa tidak akan ketahuan, hingga ketidakpedulian terhadap etika akademik. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) berkomitmen mencegah praktik ini dengan menggunakan alat pengecek plagiarisme seperti Turnitin, serta memberikan edukasi sejak awal perkuliahan mengenai pentingnya orisinalitas dan integritas akademik. Langkah ini dilakukan untuk membentuk mahasiswa yang jujur, bertanggung jawab, dan menghargai karya orang lain.
Mahasiswa UNUSA juga diposisikan sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah, yakni penerus tradisi keilmuan dan keagamaan yang berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah serta ke-NU-an. Aswaja An-Nahdliyah menekankan pada prinsip moderasi (tawassuth), keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (islah). Mahasiswa dididik untuk menjadi penjaga tradisi keilmuan NU, seperti mempelajari kitab-kitab klasik dengan pendekatan kontekstual. Mereka juga diarahkan menjadi agen moderasi beragama yang menolak ekstremisme, pelopor perdamaian, serta pejuang sosial yang terlibat aktif dalam pemberdayaan masyarakat dan isu-isu kemanusiaan. Selain itu, mahasiswa UNUSA diharapkan mampu menjadi inovator yang mengadaptasi nilai-nilai tradisional ke dalam konteks kekinian, seperti memanfaatkan teknologi untuk dakwah dan menyelesaikan persoalan modern dengan pendekatan Aswaja. Hal ini diwujudkan dalam berbagai aktivitas kampus, mulai dari mata kuliah ke-NU-an, kegiatan organisasi seperti PMII, IPNU/IPPNU, hingga kolaborasi nyata dengan struktur NU dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Di tengah tantangan globalisasi dan era digital, mahasiswa UNUSA dituntut mampu menjaga identitas ke-Aswaja-annya sambil menjawab kebutuhan zaman.
Dalam konteks kebangsaan, generasi muda secara umum, termasuk mahasiswa, memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam pemberantasan korupsi. Sebagai calon pemimpin masa depan, mereka memiliki energi, kreativitas, dan idealisme yang dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan sistem yang bersih dan transparan. Kunci utama yang harus ditanamkan adalah nilai integritas, yang mencakup kejujuran, konsistensi antara ucapan dan tindakan, tanggung jawab dalam menjalankan peran, keadilan tanpa pandang bulu, keberanian melawan praktik koruptif, dan kemandirian dalam mencapai tujuan tanpa jalan pintas. Generasi muda harus memulai dari hal-hal kecil, seperti tidak mencontek, menolak pungli, hidup sederhana, dan menghindari gratifikasi. Mereka juga perlu aktif mengedukasi diri, berdiskusi tentang isu antikorupsi, bergabung dalam komunitas yang mendukung gerakan bersih, serta memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan transparansi dan mengawasi penyelenggara negara.
Pemanfaatan teknologi juga menjadi senjata penting generasi muda. Mereka dapat mengakses informasi publik, menciptakan aplikasi pelaporan, atau mempopulerkan budaya antikorupsi melalui platform digital. Pengawasan partisipatif harus dilakukan di lingkungan sekitar, mulai dari kampus hingga masyarakat luas, dan diiringi dengan keberanian menggunakan hak pilih secara bijak dalam pemilu. Yang tak kalah penting, generasi muda harus mampu menjadi inspirasi — menunjukkan bahwa kesuksesan dapat diraih tanpa korupsi, membangun jejaring pemuda yang mendukung integritas, serta terlibat dalam kegiatan produktif yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, mereka juga harus waspada terhadap tantangan yang menghambat perjuangan ini, seperti budaya nepotisme, tekanan ekonomi, lingkungan yang permisif terhadap korupsi, dan rasa takut melapor karena ancaman atau tidak adanya perlindungan.
Secara keseluruhan, mahasiswa UNUSA sebagai bagian dari generasi muda Indonesia memegang tanggung jawab besar, tidak hanya sebagai pelestari nilai-nilai Islam moderat ala Aswaja An-Nahdliyah, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam menciptakan bangsa yang bebas dari korupsi. Dengan integritas yang kuat, pemanfaatan teknologi yang bijak, serta semangat kepemimpinan yang bersih, generasi muda dapat membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih adil, sejahtera, dan berkepribadian. Seperti pesan Ir. Soekarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Dalam konteks hari ini, pahlawan sejati adalah generasi muda yang jujur, berani, dan berintegritas dalam melawan korupsi dan menjaga marwah bangsa.
Refrensi: Pkkmb Day 2
Link Blog Teman Saya: https://ayundarahmaaa.blogspot.com/2025/09/resume-materi-pkkmb-hari-kedua.html
Link Media Sosial Unusa:
Instagram: https://www.instagram.com/unusa_official?igsh=a2hiamY5dXJ6anZp
Youtube: https://www.youtube.com/@unusa_official
Facebook: https://www.facebook.com/unusaofficialfb
Twitter: https://x.com/unusaofficial?lang=en
TikTok: https://www.tiktok.com/@unusa_official

Komentar
Posting Komentar